Jakarta — Di tanah Maluku, setiap menyebut nama Abdoel Moethalib Sangadji atau A.M. Sangadji, orang-orang akan mengingat satu hal: perjuangan yang tidak pernah meminta kembali. Ia adalah dokter rakyat, aktivis pergerakan nasional, dan sahabat seperjuangan tokoh besar seperti H.O.S. Cokroaminoto dan Haji Agus Salim. Namun hingga kini, namanya belum juga diabadikan sebagai Pahlawan Nasional.
Lebih dari dua dekade, masyarakat Maluku menunggu dengan harap-harap cemas. Berkas pengusulan sudah berulang kali dikirim, seminar dan kajian akademik digelar, dukungan resmi pemerintah daerah diserahkan. Tetapi hasilnya tetap sama: sunyi.
“Sudah terlalu lama Maluku menunggu. A.M. Sangadji bukan hanya pejuang Maluku, tapi pejuang bangsa.”
Suara itu datang dari Saadiah Uluputty, Anggota DPR RI asal Maluku, ketika ditemui wartawan, Selasa (11/11).
Di ruang kerjanya, Saadiah berbicara dengan nada yang bercampur antara tegas dan kecewa. Ia menilai pemerintah pusat terlalu lamban menanggapi usulan yang telah lengkap sejak bertahun-tahun lalu.
“Semua dokumen sudah diserahkan. Seminar nasional dilakukan. Ada rekomendasi DPRD dan TP2GD Maluku. Apa lagi yang ditunggu?” lanjutnya. “Jangan sampai perjuangan tokoh dari Maluku selalu dinomorduakan.”
A.M. Sangadji adalah sosok yang menautkan ilmu dan keberpihakan. Sebagai dokter rakyat, ia memilih mengabdi kepada kaum kecil di masa penjajahan, bukan bergelimang kenyamanan di pusat kolonial.
Ia aktif dalam Indische Partij dan Sarekat Islam , dua organisasi yang menjadi fondasi kebangkitan nasional. Di ruang diskusi gerakan pergerakan, Sangadji ikut menanamkan semangat kemerdekaan jauh sebelum kata “Indonesia merdeka” menjadi seruan umum.
Tetapi hingga hari ini, namanya tidak pernah disebut dalam Keputusan Presiden tentang Pahlawan Nasional.
“Ini ironis. Kita sering bicara tentang persatuan, tetapi pengakuan untuk tokoh dari Timur seolah begitu sulit datang.” ujar Saadiah lirih.
Bagi rakyat Maluku, perjuangan Sangadji bukan lagi sekadar catatan sejarah. Ia adalah cerita yang dituturkan dari generasi ke generasi tentang seorang dokter yang berjalan kaki dari kampung ke kampung demi menyembuhkan rakyat, tentang seorang tokoh yang tak pernah mencari panggung.
“Kita bukan bangsa besar kalau kita lupa pada mereka yang telah berjuang. Sudah saatnya negara menorehkan namanya dalam sejarah nasional.” tegas Saadiah.
A.M. Sangadji telah menorehkan jejak di darah perjuangan bangsa. Sekarang, giliran negara menorehkan namanya di hati rakyat melalui gelar Pahlawan Nasional.
Di Maluku, nama A.M. Sangadji tidak membutuhkan prasasti. Ia telah lama hidup di ruang paling berharga: ingatan rakyat yang tidak pernah berhenti memperjuangkan keadilan bagi sejarah bangsanya.
AM. Sangaji Pahlawan Nasional Saadiah Uluputy
Last modified: November 11, 2025







